Kelola Sehat

HEALTH IS AN INVESTMENT

Categories
Kesehatan Mental

Memahami “Autisme”: Gangguan Kesehatan Mental atau Gangguan Kejiwaan? (Bag.1)

Dalam konteks kesehatan mental, autisme (Autism Spectrum Disorder (ASD)), bukan penyakit kejiwaan (seperti depresi atau skizofrenia), tetapi gangguan perkembangan neurologis yang mempengaruhi cara seseorang berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan berperilaku. Kondisi perkembangan neurobiologis ini, mempengaruhi fungsi otak sejak masa kanak-kanak. Meski bukan gangguan kejiwaan, namun autisme berdampak besar pada kesejahteraan mental, baik bagi individu yang mengalaminya maupun keluarganya. Gambaran kondisi mental yang umum terjadi pada penyandang autisme :

1. Fungsi Sosial dan Emosional

  • Individu autistik sering kesulitan memahami ekspresi wajah, nada suara, atau bahasa tubuh orang lain.
  • Mereka juga bisa merasa kewalahan berada dalam situasi sosial yang ramai atau tidak terduga.
  • Akibatnya, banyak yang merasa terisolasi atau tidak dimengerti oleh lingkungan sosialnya.

2. Regulasi Emosi

  • Banyak individu dengan autisme memiliki sensitivitas sensorik tinggi (kepekaan terhadap suara, cahaya, sentuhan, dll).
  • Hal ini dapat menyebabkan stres berlebih atau meltdown ketika stimulasi berlebihan.
  • Kesulitan mengatur emosi bisa meningkatkan risiko kecemasan, depresi, atau burnout autistik.

3. Kesehatan Mental yang Terkait

Autisme sering muncul bersamaan dengan kondisi kesehatan mental lain, seperti:

  • Gangguan kecemasan (anxiety disorder)
  • Depresi (depressive disorder)
  • Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
  • Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)

Ini disebut komorbiditas, dan perlu pendekatan pengelolaan secara holistik. Komorbiditas berarti adanya dua atau lebih kondisi yang terjadi bersamaan dalam satu individu. Kondisi Kesehatan mental yang sering muncul bersamaan pada penderitan autisma Adalah:

  1. Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder), Cemas berlebihan terhadap perubahan, situasi sosial, atau suara keras. Bisa muncul dalam bentuk panic attack, selective mutism, atau social anxiety.
  2. Depresi (Depressive Disorder), Perasaan sedih terus-menerus, kehilangan minat, kelelahan sosial, atau perubahan pola tidur dan makan.
  3. ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), Sulit fokus, impulsif, mudah terdistraksi, dan hiperaktif.
  4. OCD (Obsessive-Compulsive Disorder), Pikiran obsesif dan perilaku berulang (misalnya harus menyusun barang dengan urutan tertentu).
  5. Gangguan tidur, gangguan makan, atau burnout autistic, Sering terjadi akibat stres sosial kronis atau lingkungan yang tidak suportif.

Ada beberapa alasan mengapa individu autistik lebih rentan terhadap gangguan kesehatan mental:

  1. Faktor neurologis – struktur dan koneksi otak yang berbeda dapat memengaruhi regulasi emosi dan stres.
  2. Beban sosial tinggi – tekanan untuk “menyesuaikan diri” dengan norma sosial dapat menimbulkan stres jangka panjang.
  3. Kurangnya pemahaman dan dukungan lingkungan – sering disalahpahami, dikucilkan, atau dianggap “aneh”.
  4. Kelelahan sensorik dan sosial – stimulasi berlebih membuat sistem saraf mudah lelah dan rawan kecemasan.

Pendekatan kesehatan mental fokus pada pemberian dukungan emosional dan psikososial, bukan “menyembuhkan” autisme. Beberapa bentuk dukungan yang dapat diberikan:

  • Terapi perilaku dan komunikasi, seperti Applied Behavior Analysis (ABA), Social Skills Training, atau terapi wicara.
  • Terapi psikologis, Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang disesuaikan untuk individu autistik dapat membantu mengelola kecemasan atau stres.
  • Lingkungan suportif, menciptakan lingkungan yang memahami kebutuhan sensorik dan sosial individu autistik.
  • Dukungan keluarga dan komunitas, konseling keluarga penting untuk meningkatkan pemahaman, empati, dan keterampilan menghadapi tantangan sehari-hari.

Visit & Buy:https://amzn.to/49epiTI

Kesimpulan

Dari sudut pandang kesehatan mental, autisme adalah kondisi neurodivergen, bukan gangguan kejiwaan, tetapi dapat berpengaruh kuat terhadap kesejahteraan emosional dan sosial. Pendekatan terbaik bukan dengan mencoba “menormalkan” mereka, melainkan dengan menerima, memahami, dan mendukung cara unik mereka berpikir dan merasakan dunia.

Disclaimer: Artikel ini memuat iklan sponsor