Penanganan autisme dalam fungsi sosial menekankan pada bagaimana membantu individu autistik untuk berinteraksi, berkomunikasi, dan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya — tanpa memaksa mereka untuk “berubah menjadi orang neurotipikal pada umumnya”. Tujuannya adalah mendukung kemandirian, kenyamanan, dan rasa percaya diri dalam hubungan sosial.
1. Pemahaman Dasar: Fungsi Sosial pada Individu Autistik
Individu autistik sering menghadapi tantangan seperti:
- Kesulitan memahami isyarat sosial (ekspresi wajah, kontak mata, intonasi suara).
- Tidak tahu kapan harus mulai atau mengakhiri percakapan.
- Preferensi untuk rutinitas dan interaksi yang terstruktur.
- Mudah kelelahan dalam situasi sosial (social exhaustion).
Catatan : Individu Autistik, mampu bersosialisasi, hanya saja cara dan kenyamanannya berbeda dari orang kebanyakan.
2. Pendekatan Penanganan dalam Fungsi Sosial
Pendekatan ini harus individual dan berfokus pada kekuatan (strength-based approach), bukan menggali kekurangan.
a. Terapi Keterampilan Sosial (Social Skills Training)
- Membantu individu belajar membaca ekspresi wajah, memahami aturan sosial, dan merespons dengan tepat.
- Biasanya dilakukan dalam kelompok kecil agar mereka bisa berlatih langsung.
- Bentuknya bisa berupa permainan peran (role play), latihan percakapan, atau simulasi situasi sosial.
Contoh: Latihan bagaimana mengucapkan salam, bertanya dengan sopan, atau bergabung dalam obrolan tanpa mengganggu.
b. Terapi Wicara dan Komunikasi
Bagi individu dengan keterbatasan verbal, terapi ini membantu mereka mengekspresikan diri:
- Melalui bahasa tubuh, gambar, atau teknologi (Augmentative and Alternative Communication / AAC).
- Meningkatkan kemampuan memahami percakapan dua arah.
Tujuan: Agar komunikasi menjadi lebih efektif, bukan sekadar “normal”.
c. Model Sosial dan Pendampingan (Peer Mentoring)
- Individu autistik dapat belajar interaksi sosial dengan teman sebaya yang memahami mereka.
- Pendekatan ini membangun self-confidence dan mencegah isolasi sosial.
Contoh: Program “teman sebaya inklusif” di sekolah atau komunitas.
d. Pendekatan Terapi Berbasis Minat
- Terapis menggunakan minat khusus anak atau individu autistik sebagai jembatan sosial.
Misalnya, jika seseorang menyukai kereta, maka aktivitas sosial dikaitkan dengan topik itu. - Ini membuat interaksi terasa alami dan menyenangkan.
e. Pendidikan dan Pelatihan untuk Keluarga
Keluarga perlu dilatih agar:
- Mengerti cara berkomunikasi yang sesuai (jelas, konsisten, tidak berlebihan).
- Tidak menekan individu untuk bersosialisasi di luar kemampuan mereka.
- Memberikan safe space untuk beristirahat dari interaksi sosial yang melelahkan.
f. Intervensi Lingkungan Sosial
Kadang masalah bukan pada individu autistik, tapi pada lingkungan yang tidak ramah neurodiversitas.
Maka penanganannya meliputi:
- Meningkatkan kesadaran masyarakat (teman sekolah, guru, rekan kerja).
- Mengurangi stigma dan tekanan sosial.
- Menyediakan ruang sosial yang tenang dan terstruktur.

3. Tujuan Akhir Penanganan
- Bukan “mengubah” cara bersosialisasi mereka, tapi memfasilitasi adaptasi dua arah:
→ individu autistik belajar memahami dunia (lingkungan sosial)
→ (masyarakat sosial) belajar memahami cara unik mereka berinteraksi.
Dengan begitu, mereka dapat:
✅ Merasakan koneksi sosial yang bermakna.
✅ Mengurangi stres sosial dan kecemasan.
✅ Mengembangkan hubungan yang sehat dan suportif.
keyword: “Autisme bukan ketidakmampuan bersosialisasi, melainkan cara yang berbeda dalam memahami dan menjalin hubungan dengan orang lain.”
Disclaimer: Artikel ini memuat iklan sponsor
OYIN 4-Pack Fidget Tubes for Kids, Sensory Tubes, Stress Relief Toy, Speech Therapy, Calming Toys for Children with Autism, Calm Down Corner Classroom Supplies, Christmas School Gifts for Toddlers


Visit & Buy:https://amzn.to/3N0odHF