Kelola Sehat

HEALTH IS AN INVESTMENT

Categories
Kesehatan Mental

Memahami “Autisme”: Cara Memberi Dukungan Dalam Fungsi Sosial (Bag.2)

Penanganan autisme dalam fungsi sosial menekankan pada bagaimana membantu individu autistik untuk berinteraksi, berkomunikasi, dan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya — tanpa memaksa mereka untuk “berubah menjadi orang neurotipikal pada umumnya”. Tujuannya adalah mendukung kemandirian, kenyamanan, dan rasa percaya diri dalam hubungan sosial.

Individu autistik sering menghadapi tantangan seperti:

  • Kesulitan memahami isyarat sosial (ekspresi wajah, kontak mata, intonasi suara).
  • Tidak tahu kapan harus mulai atau mengakhiri percakapan.
  • Preferensi untuk rutinitas dan interaksi yang terstruktur.
  • Mudah kelelahan dalam situasi sosial (social exhaustion).

Catatan : Individu Autistik, mampu bersosialisasi, hanya saja cara dan kenyamanannya berbeda dari orang kebanyakan.

Pendekatan ini harus individual dan berfokus pada kekuatan (strength-based approach), bukan menggali kekurangan.

a. Terapi Keterampilan Sosial (Social Skills Training)

  • Membantu individu belajar membaca ekspresi wajah, memahami aturan sosial, dan merespons dengan tepat.
  • Biasanya dilakukan dalam kelompok kecil agar mereka bisa berlatih langsung.
  • Bentuknya bisa berupa permainan peran (role play), latihan percakapan, atau simulasi situasi sosial.

Contoh: Latihan bagaimana mengucapkan salam, bertanya dengan sopan, atau bergabung dalam obrolan tanpa mengganggu.

b. Terapi Wicara dan Komunikasi

Bagi individu dengan keterbatasan verbal, terapi ini membantu mereka mengekspresikan diri:

  • Melalui bahasa tubuh, gambar, atau teknologi (Augmentative and Alternative Communication / AAC).
  • Meningkatkan kemampuan memahami percakapan dua arah.

Tujuan: Agar komunikasi menjadi lebih efektif, bukan sekadar “normal”.

c. Model Sosial dan Pendampingan (Peer Mentoring)

  • Individu autistik dapat belajar interaksi sosial dengan teman sebaya yang memahami mereka.
  • Pendekatan ini membangun self-confidence dan mencegah isolasi sosial.

Contoh: Program “teman sebaya inklusif” di sekolah atau komunitas.

d. Pendekatan Terapi Berbasis Minat

  • Terapis menggunakan minat khusus anak atau individu autistik sebagai jembatan sosial.
    Misalnya, jika seseorang menyukai kereta, maka aktivitas sosial dikaitkan dengan topik itu.
  • Ini membuat interaksi terasa alami dan menyenangkan.

e. Pendidikan dan Pelatihan untuk Keluarga

Keluarga perlu dilatih agar:

  • Mengerti cara berkomunikasi yang sesuai (jelas, konsisten, tidak berlebihan).
  • Tidak menekan individu untuk bersosialisasi di luar kemampuan mereka.
  • Memberikan safe space untuk beristirahat dari interaksi sosial yang melelahkan.

f. Intervensi Lingkungan Sosial

Kadang masalah bukan pada individu autistik, tapi pada lingkungan yang tidak ramah neurodiversitas.
Maka penanganannya meliputi:

  • Meningkatkan kesadaran masyarakat (teman sekolah, guru, rekan kerja).
  • Mengurangi stigma dan tekanan sosial.
  • Menyediakan ruang sosial yang tenang dan terstruktur.
  • Bukan “mengubah” cara bersosialisasi mereka, tapi memfasilitasi adaptasi dua arah:
    → individu autistik belajar memahami dunia (lingkungan sosial)
    → (masyarakat sosial) belajar memahami cara unik mereka berinteraksi.

Dengan begitu, mereka dapat:
✅ Merasakan koneksi sosial yang bermakna.
✅ Mengurangi stres sosial dan kecemasan.
✅ Mengembangkan hubungan yang sehat dan suportif.

keyword: “Autisme bukan ketidakmampuan bersosialisasi, melainkan cara yang berbeda dalam memahami dan menjalin hubungan dengan orang lain.”

Disclaimer: Artikel ini memuat iklan sponsor

Visit & Buy:https://amzn.to/3N0odHF